Sepanjang sejarah, manusia selalu mengalami pengalaman-pengalaman unik yang dirasakan melampaui batas-batas normal yang terkadang sulit untuk dianalisa dengan menggunakan teori dan pendekatan keilmuan yang menuntut objektifitas murni (harus objektif dan bersifat empirik)
Penelitian yang dilakukan oleh Davis, Lockwood, dan Wright (2001) terhadap sampel yang cukup besar (n = 5000) di Amerika membuktikan bahwa sebanyak 79% dari sampel tersebut pernah mengalami pengalaman unik dan sangat bermakna. Pengalaman tersebut meliputi pengalaman mistis, pengalaman yang berhubungan dengan spiritualitas, dan sebagian besar pernah mengalami pengalaman puncak (peak experience), bahkan sebagian kecil dari subjek pernah mengalami pengalaman yang berdekatan dengan kematian (near-death experience).
Atau agar lebih jelas, silahkan bercermin kepada pengalaman pribadi kita, mungkin sebagian dari kita pernah mengalami pengalaman “unik” seperti yang dialami oleh sebagian besar subjek penelitian diatas.
Pengalaman puncak didefinisikan sebagai pengalaman baik, sangat penting dan penuh makna dalam rentang kehidupan seseorang, dan dalam banyak hal, mirip dengan pengalaman mistikal atau pengalaman spiritual.
Permasalahan yang terjadi sekarang adalah, kebanyakan pendekatan psikologis masa kini (pra transpersonal) lebih mengkategorikan pengalaman-pengalaman “unik” tersebut sebagai fantasi, delusi dan halusinasi , gejala patologis, atau adanya distorsi kognitif (tergantung pada pendekatan teoritis yang digunakan)
Lebih dari tiga dekade yang lalu, beberapa pakar psikologi mulai memandang dan menganggap pengalaman-pengalaman “unik” diatas sebagai sesuatu yang dapat dipelajari, dapat dikaji dan memandangnya sebagai sesuatu yang “khas-manusia” serta berusaha untuk menarik pengalaman-pengalaman tersebut menjadi sesuatu hal yang bersifat empiris-keilmuan. Berangkat dari itu semua, maka lahirlah psikologi transpersonal yang dianggap sebagai mahzab keempat dari ilmu psikologi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar