Menikah….satu kata yang dapat memberikan banyak makna bagi setiap orang. Pertama, Ada yang bermakna indah dan menyenangkan karena munkin saja orang tersebut menikah dengan orang yang selama ini diidam-idamkannya, atau orang yang memang diinginkannya sebagai teman hidupnya hinga akhir hayatnya. Kedua, bermakna biasa-biasa saja karena mungkin orang tersebut menikah dengan orang yang bukan sasarannya. Misalnya suka sama kakaknya tetapi karena kakaknya sudah punya pacar, maka ia kemudian berpacaran dengan adiknya. Atau mungkin dia menyukai si X, pada awalnya minta di comblangin sama si Y, tapi kemudian karena si X tidak membalas cintanya, tetapi karena sudah merasa dekat dengan si Y, maka akhirnya ia pun berpacaran dan sampai menikah dengan si Y. ketiga, bermakna buruk atau “sial” karena mungkin saja ia berpacaran dengan orang yang hanya dipilih karena hal lainnya, tetapi karena situasi dan kondisi, akhirnya mau tidak mau ia harus menikah dengan orang itu. Misalnya, si john memacari si minie karena minie memiliki tubuh yang seksi, dan indah, walaupun secara mental, si minie sebenarnya agak mengalami retardasi mental. Pada suatu saat, akibat hubungan mereka yang telalu intim, akhirnya si minie hamil. Mau tidak mau, maka si john harus menikahi si minie walaupun dengan berat hati. Contoh lainnya adalah misalnya siti nurbaya yang harus menikah dengan datuk maringgih karena ayahya siti nurbaya terlilit hutang kepada datuk maringgih, maka untuk melunasi hutang-hutangnya, ia dipaksa untuk menikah dengan datuk maringgih tersebut.
Terlepas dari makna apa yang ada di belakang menikah, saya juga pernah mengamati pasangan yang sudah menikah. Ada banyak pasangan yang menurut pengamatan saya “tidak setara”. Saya punya teman wanita, yang menurut saya perilaku dan penampilannya jauh dari “ideal”. Dari segi fisik, ia tidak menarik, pendek, bulat-gemuk, rambut keriting agak tidak teratur, berkulit gelap dan selalu tidak enak dilihat jika berpakaian (pemilihan warna kostum yang tidak sesuai). Dari segi karakter, ia tidak menyenangkan, egois, mudah marah, tidak suka jika diberi saran, dan maunya mengatur orang lain. Tetapi, teman wanita saya itu justru mendapatkan suami yang sangat bertolak belakang dengan penampillan dan karakter teman wanita saya tadi. Suaminya memiliki postur tubuh yang ideal, tinggi besar, berwibawa, dan sangat penyabar serta lebut dalam bertutur kata. Ketika saya bertanya kepada suaminya tersebut mengenai istrinya, ia menjawab bahwa istrinya lah figure ideal yang dicarinya selama ini. Saya sangat terheran-heran dengan jawabannya tersebut. Alasan yang dikemukakan oleh suaminya tersebut benar-benar diluar yang saya kira. Atau mungkin kita sering melihat sepasang suami istri atau pasangan yang sedang berpacaran, yang menurut kita pasangan tersebut tidak setara. Bisa jadi yang perempuan sangat cantik, sementara pasangannya sangat jelek, atau sebaliknya. Ada pepatah kalo cinta itu buta. Mungkin pasangan itulah buktinya.
Sebuah kata mutiara “Selalu ada alasan di balik semua hal”. Kata mutiara tersebut bisa jadi ada benarnya. Tetapi dalam hal menikah, saya punya hipotesis lain. Jika dikaitkan dengan kata mutiara tersebut, setiap orang pasti memiliki alasan yang kuat ketika ia memutuskan untuk menikah. Misalnya, alasannya adalah bahwa ia sudah menemukan orang yang tepat yang akan dijadikan pasangannya seumur hidupnya, ia sudah memiliki materi dan pekerjaan yang cukup untuk menghidupi istri dan anaknya nanti, ia sudah cukup umur untuk segera menikah, dan serangkaian alasan lainnya yang ada di balik keputusan menikah. Tetapi hipotesis saya justru berkata sebaliknya. Alasan orang memutuskan untuk menikah adalah karena orang tersebut justru sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk mengatakan “tidak”. Misalnya, ketika seseorang belum memiliki calon pasangan, maka dia masih punya alasan untuk mengatakan tidak akan menikah karena belum memiliki calon pasangan. Ketika seseorang masih berkuliah, dia masih punya alasan untuk mengatakan tidak karena alasannya adalah masih berkuliah. Ketika seseorang belum memiliki pekerjaan yang dapat diandalkan, dia masih punya alasan untuk mengatakan tidak karena alasannya adalah belum bekerja.
Ketika seseorang sudah memiliki calon pasangan, maka sesungguhnya, ia sudah tidak memiliki alasan untuk mengatakan tidak. Ketika seseorang sudah lulus kuliah, maka alasan berkuliah sudah tidak lagi dapat dijadikan alasan. Ketika seseorang sudah bekerja dan sudah mandiri secara financial, maka sesungguhnya ia sudah tidak memiliki alasan untuk mengatakan tidak, dan begitu seterusnya. Jadi sesungguhnya, satu-satunya hal yang mendasari seseorang memutuskan untuk menikah adalah karena orang tersebut sudah tidak memiliki alasan untuk mengatakan “tidak”. Marilah kita berkaca pada diri sendiri sudah sejauh mana hal-hal tersebut masih bisa kita andalkan untuk mengatakan “tidak”.
Selasa, 29 April 2008
Rabu, 23 April 2008
Introduction to Transpersonal Psychology
Sepanjang sejarah, manusia selalu mengalami pengalaman-pengalaman unik yang dirasakan melampaui batas-batas normal yang terkadang sulit untuk dianalisa dengan menggunakan teori dan pendekatan keilmuan yang menuntut objektifitas murni (harus objektif dan bersifat empirik)
Penelitian yang dilakukan oleh Davis, Lockwood, dan Wright (2001) terhadap sampel yang cukup besar (n = 5000) di Amerika membuktikan bahwa sebanyak 79% dari sampel tersebut pernah mengalami pengalaman unik dan sangat bermakna. Pengalaman tersebut meliputi pengalaman mistis, pengalaman yang berhubungan dengan spiritualitas, dan sebagian besar pernah mengalami pengalaman puncak (peak experience), bahkan sebagian kecil dari subjek pernah mengalami pengalaman yang berdekatan dengan kematian (near-death experience).
Atau agar lebih jelas, silahkan bercermin kepada pengalaman pribadi kita, mungkin sebagian dari kita pernah mengalami pengalaman “unik” seperti yang dialami oleh sebagian besar subjek penelitian diatas.
Pengalaman puncak didefinisikan sebagai pengalaman baik, sangat penting dan penuh makna dalam rentang kehidupan seseorang, dan dalam banyak hal, mirip dengan pengalaman mistikal atau pengalaman spiritual.
Permasalahan yang terjadi sekarang adalah, kebanyakan pendekatan psikologis masa kini (pra transpersonal) lebih mengkategorikan pengalaman-pengalaman “unik” tersebut sebagai fantasi, delusi dan halusinasi , gejala patologis, atau adanya distorsi kognitif (tergantung pada pendekatan teoritis yang digunakan)
Lebih dari tiga dekade yang lalu, beberapa pakar psikologi mulai memandang dan menganggap pengalaman-pengalaman “unik” diatas sebagai sesuatu yang dapat dipelajari, dapat dikaji dan memandangnya sebagai sesuatu yang “khas-manusia” serta berusaha untuk menarik pengalaman-pengalaman tersebut menjadi sesuatu hal yang bersifat empiris-keilmuan. Berangkat dari itu semua, maka lahirlah psikologi transpersonal yang dianggap sebagai mahzab keempat dari ilmu psikologi
Penelitian yang dilakukan oleh Davis, Lockwood, dan Wright (2001) terhadap sampel yang cukup besar (n = 5000) di Amerika membuktikan bahwa sebanyak 79% dari sampel tersebut pernah mengalami pengalaman unik dan sangat bermakna. Pengalaman tersebut meliputi pengalaman mistis, pengalaman yang berhubungan dengan spiritualitas, dan sebagian besar pernah mengalami pengalaman puncak (peak experience), bahkan sebagian kecil dari subjek pernah mengalami pengalaman yang berdekatan dengan kematian (near-death experience).
Atau agar lebih jelas, silahkan bercermin kepada pengalaman pribadi kita, mungkin sebagian dari kita pernah mengalami pengalaman “unik” seperti yang dialami oleh sebagian besar subjek penelitian diatas.
Pengalaman puncak didefinisikan sebagai pengalaman baik, sangat penting dan penuh makna dalam rentang kehidupan seseorang, dan dalam banyak hal, mirip dengan pengalaman mistikal atau pengalaman spiritual.
Permasalahan yang terjadi sekarang adalah, kebanyakan pendekatan psikologis masa kini (pra transpersonal) lebih mengkategorikan pengalaman-pengalaman “unik” tersebut sebagai fantasi, delusi dan halusinasi , gejala patologis, atau adanya distorsi kognitif (tergantung pada pendekatan teoritis yang digunakan)
Lebih dari tiga dekade yang lalu, beberapa pakar psikologi mulai memandang dan menganggap pengalaman-pengalaman “unik” diatas sebagai sesuatu yang dapat dipelajari, dapat dikaji dan memandangnya sebagai sesuatu yang “khas-manusia” serta berusaha untuk menarik pengalaman-pengalaman tersebut menjadi sesuatu hal yang bersifat empiris-keilmuan. Berangkat dari itu semua, maka lahirlah psikologi transpersonal yang dianggap sebagai mahzab keempat dari ilmu psikologi
Langganan:
Postingan (Atom)